Tuesday, 20 August 2019

Coco Chanel:Gadis Miskin Perancis yang Jadi Ikon Fesyen Dunia

Coco Chanel:Gadis Miskin Perancis yang Jadi Ikon Fesyen Dunia

Coco Chanel:Gadis Miskin Perancis yang Jadi Ikon Fesyen Dunia



I don't do fashion, I am fashion."

Kalimat populer dunia fesyen ini ini meluncur dari mulut ikon fesyen Coco Chanel. Seorang aktor intelektual di balik label kenamaan, Chanel. Berkat wanita satu ini, sekarang orang-orang berseliweran mengenakan tas, busana bahkan parfum Chanel No.5 yang sampai kini masih digemari sejak peluncurannya pada 1922.

Akan namun jauh sebelum flamboyan panggung peragaan dan hingar bingar fesyen Paris, si kota mode, Chanel hanyalah gadis kurang mampu di pinggiran Prancis. Dia bermunculan dengan nama Gabrielle Bonheur Chanel di Saumur, Prancis pada 19 Agustus 1883.


Pascakematian sang ibu, Eugénie Jeanne Devolle, Chanel yang masih berusia 12 tahun diangkut ayahnya, Albert Chanel ke biara Aubazine kepunyaan Kongregasi Hati Kudus Maria. Di sana biara mengelola panti asuhan guna gadis yatim piatu. Chanel mesti hidup serba simpel dan tuntutan kedisiplinan tinggi. Meski demikian, di sini dia belajar menjahit.

Dari gadis panti asuhan, perlahan Chanel mulai mengolah nasib dengan menjadi biduan klab di Vichy dan Moulins. Dari sana Chanel beroleh panggilan 'Coco'. Kata ini berasal dari lagu yang biasa dia nyanyikan. Coco berasal dari kependekan kata 'cocotte', istilah dalam bahasa Prancis yang berarti 'wanita simpanan'.

Menjadi biduan membuatnya bertemu dengan sederet pria-pria kaya. Hingga pada 1913, dia mendapat sokongan dana dari Arthur 'Boy' Capel, di antara pria ruang belajar atas asal Inggris. Pada 1910, dia membuka toko di Rue Cambon, Paris lantas disusul di Deauville dan Biarritz. Mula-mula ia melulu menjual topi, baru lantas dia memasarkan pakaian. Bukan gaun atau busana serba mewah, tetapi jersey.

"Keberuntungan saya di bina pada jersey tua itu yang saya kenakan sebab Deauville tersebut dingin," ujar Chanel pada pengarang Paul Morand mengutip dari laman Biography.

Tak berhenti di situ, Chanel memperluas bisnisnya dalam ranah wewangian. Parfum kesatu yang dikenalkan menyandang nama keluarganya, Chanel No.5. Angka '5' dicantumkan karena Chanel mempercayai ini ialah angka keberuntungannya. Versi lain menuliskan angka ini menandai kreasi kelima yang dipilih Chanel dari kreator parfum Ernst Beaux.

"[Parfum] tersebut tak terlihat, tak terlupakan, aksesori fashion yang utama...yang menandai kedatangan dan menciptakan orang memperingati Anda ketika Anda beranjak," jelas dia kala itu.

Inovasinya berikut yang menciptakan nama dia kian dikenal.

Menyelamatkan perempuan dari siksa korset

Wanita masa kini mungkin berutang budi pada Chanel. Pasalnya, dialah yang melepaskan wanita dari ketat dan siksa korset. Mengutip sekian banyak sumber, di masa itu, perempuan dan korset laksana dua urusan yang susah dipisahkan. Baru pada 1925, Chanel mengenalkan setelan jaket tanpa kerah dan rok ketat (well-fitted skirt). Desain ini dirasakan revolusioner. Dia pula yang mengenalkan bell-bottomed pants pada kaum hawa yang nyaman dikenakan dalam kegiatan apapun.

Gaya busana beda yang begitu fenomenal dan masih dipraktikkan sampai kini merupakan little black dress (LBD). Ini cocok dengan prinsipnya yaitu "simplicity is the keynote of all true elegance."

Akan tetapi, ia tak lama meneguk popularitas dan keuntungan karena pada selama 1930-an, Perang Dunia II berimbas pada usahanya. Setelah merumahkan karyawan dan memblokir usahanya, dia menguras hari di Swiss, dan pun di rumahnya di Roquebrune, suatu wilayah pedesaan di sekitar Monako.

Baru pada mula 1950-an, dia pulang ke panggung fesyen walau usia telah kepala tujuh. Tak butuh waktu lama guna kembali unik perhatian 'fashionista' dunia. Ini seluruh berkat rancangannya yang feminin dan potongan sederhana.

Pada 10 Januari 1971, dunia fesyen pun menyampaikan selamat bermukim padanya. Church of the Madeleine menjadi saksi semua pelayat yang menangis dan menyerahkan penghormatan terakhir dengan mengenakan setelan Chanel.

Selama hampir satu dasawarsa kemudian, mendiang Karl Lagerfeld menyerahkan 'suntikan ajaib' pada Chanel sampai label ini dapat menancapkan taring di dunia fesyen kembali. Label sekarang berstatus milik family Wertheimer. Tak dapat dimungkiri, Karl punya andil besar dalam membawa Chanel pada masa kejayaan pascakepergian Chanel.

Karl Lagerfeld kini pun sudah meninggal dunia, tampuk kepemimpinan Chanel sekarang dipegang oleh Virginie Viard yang berjanji akan tetap meneruskan DNA Coco Chanel dalam tiap koleksi barunya.