Kesuburan Menurun, Korea Selatan Kekurangan Generasi Penerus

Di tengah gegap gempita dunia K-Pop, Korea Selatan merasakan masalah kesuburan yang menurun. Tingkat kesuburan warga Korea Selatan menjadi di antara yang terendah di dunia.
Tingkat kesuburan ialah angka rata-rata jumlah anak yang akan dipunyai seorang wanita dalam hidupnya. Pemerintah Korea Selatan mengumumkan, tingkat kesuburan pada tahun lalu menduduki posisi sangat rendah sepanjang masa.
Pada 2018, tingkat kesuburan di Korea Selatan turun menjadi 0,98 dari tahun sebelumnya 1,05. Artinya, wanita di Korea Selatan melahirkan tidak cukup dari satu bayi sekitar hidup mereka, yang dengan kata lain banyak yang tidak mempunyai anak. Padahal, untuk menjaga populasi yang stabil, masing-masing negara memerlukan tingkat kesuburan di angka 2.
Tingkat kesuburan ini pun memengaruhi jumlah bayi yang bermunculan pada tahun 2018, yakni 8,7 persen lebih tidak banyak ketimbang tahun 2017.
Di Korea, tidak saja kesuburan yang menjadi masalah, tingkat kematian pada tahun 2017 pun mencapai rekor tertinggi. Sementara itu, populasi di Korea Selatan terus menua. Bagi kesatu kalinya, jumlah orang yang berusia di atas 65 tahun mendahului jumlah anak berusia 0-14 tahun.
Rekor ini menciptakan Korea Selatan masuk dalam negara dengan tingkat kesuburan sangat rendah di dunia. Bahkan, tingkat kesuburan ini lebih rendah ketimbang Jepang yang sedang berusaha melawan ketidaksuburan. Pada tahun lalu, tingkat kesuburan Jepang sedang di angka 1,42.
alasan terbesar menurunnya kesuburan masyarakat Korea Setan ialah tuntutan kebiasaan kerja dan uang. Membuat orang susah menyeimbangkan karier dan keluarga. Termasuk pun kecenderungan wanita dan laki-laki Korea yang lebih memilih guna menunda pernikahan.
Pada 2018, beberapa besar warga Korea Selatan yang berusia 20 sampai 44 tahun didapati masih lajang. Banyak dari pemuda Korea Selatan yang menuliskan mereka tidak punya waktu, uang, atau kapasitas emosional guna berkencan lagipula menikah.
