Sunday, 18 August 2019

Titik Balik di Pulau Buru dan Pesan Pramoedya untuk Anak Muda

Titik Balik di Pulau Buru dan Pesan Pramoedya untuk Anak Muda

Titik Balik di Pulau Buru dan Pesan Pramoedya untuk Anak Muda



Bagi sastrawan Ajip Rosidi, momen Pramoedya Ananta Toer dilemparkan ke Pulau Buru menjadi titik balik kesastraan lelaki asal Blora tersebut. Hal tersebut dialami Ajip begitu menyimak naskah Bumi Manusia produksi Pram sekitar di Buru.

Penjara dan tahanan menjadi urusan yang biasa sebetulnya untuk Pram. Ia pernah disangga tiga tahun ketika masa kolonial, setahun ketika Orde Lama.

Menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) menciptakan Pram dicap sebagai seorang komunis semasa hidupnya.


Hingga pada 1965, ia menjadi tahanan politik di Pulau Nusakambangan, kemudian Pulau Buru tanpa proses pengadilan.

Saat itu, Pram dilarang menulis. Namun, sastrawan asal Blora ini tetap berkarya dan menghasilkan Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Pram mengawali cerita dengan mengisahkan secara lisan untuk teman-temannya jalan kisah dalam novel-novel tersebut.

Ia juga baru benar-benar mencatat pada 1975 dan naskahnya dititipkan untuk sejumlah orang, salah satunya ialah seorang pastur.

Pastur tersebut lantas menyerahkan sejumlah naskah untuk Ajip Rosidi dan meminta langsung dibaca. Sebagai seorang teman, Ajip langsung melahap naskah-naskah itu semalaman.

"Setelah baca, saya hingga mikir, apa Pram mesti dipenjara dulu baru bagus tulisannya? Karena yang ditulis ketika di penjara bagus sekali. Sebelumnya tidak terdapat yang sebagus itu,"

Buah tangan Pram di Pulau Buru ialah tidak banyak dari karya sastrawan tersebut yang meninggalkan bekas dalam pikiran Ajip. Sebelum eksistensi Bumi Manusia, Ajip terpesona dengan karya Pramoedya bertema Bukan Pasar Malam.

Bukan Pasar Malam diluncurkan pada 1951 dan sempat menjadi di antara karya yang dilarang beredar pada 1965.

Melalui Tetralogi Buru, Ajip menilai Pram benar-benar menelaah karakter yang ditulis dengan jalan kisah yang kuat. Pram memang menghadirkan cerita cinta Minke dan Annelies dengan latar kolonialisme dan sekian tidak sedikit masalah sosial laksana perbedaan kasta dan kelas.

Ajip berasumsi Pram mengindikasikan dirinya bukan seorang komunis melewati karya-karyanya, tergolong Bumi Manusia, walau menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia yang mendorong seniman mengekor ajaran realisme sosialis.

"Realisme sosialis kan gampangnya disaksikan tokohnya tentu bakal hidup dan menang. Tapi di Bumi Manusia dan yang beda siapa figur yang begitu? Enggak ada," kata Ajip.

Pandangan serupa dikatakan Mujib Hermani, di antara orang terdekat Pram yang ikut dalam mengeluarkan novel-novelnya di Lentera Dipantara, atau dulu dikenal sebagai Hasta Mitra.

Mujib menyebutkan jalan kisah serta cerita sejarah yang disisipkan Pram dalam novel rekaan lebih powerful dan terasa sesudah disangga di Pulau Buru.

Di samping itu, Mujib terkenang dengan pesan yang dikatakan Pram saat Bumi Manusia mulai diterbitkan dan dipasarkan pada 1980-an.

"Pram melulu berpesan kitab ini mesti hingga ke anak-anak muda. Pokoknya mesti dibaca anak-anak muda," kata Mujib.