Tuesday, 10 September 2019

Alasan di Balik Kesan 'Horor' Badut dalam 'It Chapter Two'

Alasan di Balik Kesan 'Horor' Badut dalam 'It Chapter Two'

Alasan di Balik Kesan 'Horor' Badut dalam 'It Chapter Two'



Badut dikenal sebagai ikon yang lucu dan menggemaskan. Ia sering jadi tumpuan di pesta ulang tahun anak-anak. Namun, dalam film It Chapter Two yang tengah tayang di bioskop, sosok badut Pennywise berubah jadi sosok yang menakutkan.

Berubahnya sosok badut nan gemas menjadi menakutkan laksana Pennywise bukan terjadi tanpa alasan. Jauh sebelum sekarang, badut sering dikaitkan dengan perilaku psikopat.

Karakter badut sudah eksis semenjak ribuan tahun lalu. Secara historis, badut menjadi alat guna menyindir dan mengejek orang yang lebih kuat.

Kata badut kesatu kali hadir sekitar tahun 1500. Kala itu, Shakespeare memakai istilah 'badut' untuk mencerminkan karakter bebal dalam sejumlah lakonnya. Pada abad ke-19 sampai saat ini, sosok badut sirkus menjadi paling tersohor dengan tampilan wajah yang dipulas oleh cat, wig, menyeluruh dengan pakaian serba kedodorannya.

Karakter badut jahat laksana Pennywise dalam film It Chapter Two pun bukan urusan baru. Pada 2016 lalu, Benjamin Radford dalam bukunya bertema Bad Clowns melacak perubahan histori badut menjadi makhluk yang mengancam.

Pada 1970-an, badut dipakai sebagai di antara alat pembunuhan berantai oleh John Wayne Gacy. Akibat sederet aksinya, John Wayne Gacy dikenal dengan julukan 'si badut pembunuh'. Praktis sejak ketika itu, hubungan antara badut dan perilaku psikopat juga melekat secara kolektif dalam pandangan orang Amerika Serikat.

Pada 2016, badut bahkan meneror penduduk Amerika guna memikat wanita dan anak-anak lalu diangkut ke hutan.

Penelitian pada 2008 di Inggris mengindikasikan bahwa melulu ada paling sedikit anak yang benar-benar menyenangi badut. Gambar-gambar badut di lokasi tinggal sakit pun dapat memperparah keadaan.

Penelitian yang dilaksanakan Frank T McAndrew pada 2016 mengindikasikan ada dalil psikologis di balik urusan tersebut. Alih-alih menjadi jenaka, badut malah menghadirkan ketakutan, sebagaimana yang terlihat pada sosok Pennywise dalam film It Chapter Two.

Studi mendapati sosok badut berada di susunan teratas kegiatan yang menyeramkan dan menakutkan. Studi pun menemukan, karakter jasmani dan perilaku nonverbal yang merangsang ketakutan laksana mata melotot, kontak mata yang tidak biasa, dan senyum yang aneh.

Sementara studi beda yang dilaksanakan oleh Rami Nader menemukan sejumlah hal yang merangsang rasa fobia terhadap badut.

Beberapa dalil itu di antaranya makeup, penyamaran yang menyembunyikan identitas, serta perasaan mereka yang sebenarnya. Tampilan yang sulit ditebak itu menciptakan seseorang terus waspada ketika berhadapan dengan badut.

Dengan beragam dalil sedemikian rupa, tak heran andai Pennywise dalam film It Chapter Two menjadi sosok yang paling menakutkan dengan senyumnya yang beringas.