Sunday, 1 September 2019

Dua Dekade di Negara Berpenduduk Rupawan

Dua Dekade di Negara Berpenduduk Rupawan

Dua Dekade di Negara Berpenduduk Rupawan



Tinggal di Brasil sekitar bertahun-tahun menciptakan saya, suami, dan tiga anak kerasan dengan keadaan kehidupan di sana. Berawal dari kontrak kerja perusahaan sekitar empat tahun yang mengirimkan saya dan suami mendarat di Negara Samba pada tahun 1996 lalu, menciptakan saya mengenal tidak sedikit hal mengenai Brasil.

Tentu saja tidak sedikit perbedaan yang saya alami antara Brasil dan Indonesia. Di samping iklim dan waktu, saya pun merasakan perbedaan bahasa dan budaya. Di samping bahasa Inggris, warga Brasil pun berbahasa Portugis.

Selama di Brazil, saya menjadi ibu lokasi tinggal tangga serta bekerja untuk menolong istri dari atasan suami saya. Salah satu tugas saya merupakan mengajarinya teknik memasak makanan khas Indonesia, sebab di sini tak terdapat restoran khas Tanah Air.


Banyak yang berbicara kalau Brasil adalahgudangnya insan rupawan. Anggapan itu mungkin bermula dari mendominasinya Brasil dalam hal kecantikan, mulai dari Miss Universe hingga Victoria's Secret.

Di sini tidak sedikit pria ganteng dan perempuan cantik. Tapi tak semua warga Brasil berkulit putih dan berhidung mancung laksana Kaka atau Adriana Lima. Banyak pun kaum minoritas yang bermukim di sini, salah satunya Afrika.

Berdasarkan keterangan dari sejarah dulu juga tidak sedikit orang Afrika yang datang ke Brasil guna dijadikan budak. Namun seiring pertumbuhan zaman, perbudakan dihapus dan kini semua masyarakat dibentengi oleh undang-undang dalam segala bidang seperti, politik perdagangan, edukasi serta agama.

Di samping bentrokan antar geng kriminal, dapat dibilang jarang terjadi penentangan antar agama atau kebiasaan di sini. Soal idealisme agama atau kebiasaan rasanya seluruh penduduknya dapat menghargai perbedaan.

Brasil pun adalahnegara yang ramah muslim. Walau populasi masyarakat muslim di Brasil melulu mencapai 1,5 juta jiwa, namun kaum muslim tetap dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang dan aman.

Ada tidak sedikit pusat agama Islam dan sebanyak masjid di Brasil. Mesquita Brasil adalahmasjid tertua di sini, tepatnya sedang di ibu kota Sao Paulo yang dimulai sejak tahun 1929.

Namun ketika ini Brasil sedang berduka, sebab diselimuti asap dampak kebakaran hutan Amazon. Kawasan yang terdampak asap sangat buruk laksana Mogi Das Cruzes, yang berada tak jauh dari hutan hujan terbesar di dunia itu.

Kota Sao Paulo pun ikut terdampak asap kebakaran hutan, namun tidak terlampau parah laksana di sana.

Yang menciptakan saya salut, warga Brasil paling kompak dalam urusan memadamkan kebakaran hutan. Ada yang turun langsung ke sana, terdapat pula yang sibuk mengerjakan penggalangan dana.

Kami semua bercita-cita pemerintah Brasil bisa memaksimalkan pertolongan pemadaman kebakaran hutan di Amazon.