Friday, 6 September 2019

Wanita Lebih Multitasking Ketimbang Pria Hanya Mitos

Wanita Lebih Multitasking Ketimbang Pria Hanya Mitos

Wanita Lebih Multitasking Ketimbang Pria Hanya Mitos



Anggapan bahwa perempuan lebih multitasking ketimbang pria menciptakan sejumlah peneliti menggali tahu kebenarannya.

Hasilnya, suatu studi baru mengejar bahwa perempuan ternyata tidak lebih baik ketimbang lelaki dalam menangani tidak sedikit pekerjaan di masa-masa yang sama.

Studi yang diterbitkan pada jurnal PLOS One tersebut malah menunjukkan bahwa benak pria lebih tepat guna untuk menggarap tugas bertolak belakang dalam satu waktu. Ini membantah usulan yang sekitar ini menyatakan andai wanita lebih baik dalam menanggulangi 'kekacauan' ketimbang pria.

Leah Ruppanner, Profesor bidang Sosiologi di University of Melbourne menuliskan bahwa anggapan perempuan lebih tepat guna ketika menggarap tugas yang bertolak belakang dalam satu waktu ialah sebuah mitos.

"Pendapat publik masih memandang perempuan lebih efisien, sebenarnya tidak terdapat bukti dan riset yang mengindikasikan hal tersebut," katanya dikutip dari Medical Diary.

Untuk menemukan hasil tersebut, peneliti sukses mengumpulkan 48 lelaki dan wanita guna diuji keterampilan mereka dalam bekerja. Hasil tersebut dapat menunjukkan seberapa cepat dan akurat seseorang menuntaskan tugas.

"Pria dan wanita berlomba menggunakan bagian benak yang sama dan ini menciptakan multitasking paling sulit. Bagaimanapun, benak bekerja pada satu proyek di satu waktu," tegasnya.

Usai masa riset berakhir, peneliti tidak tidak menemukan perbedaan signifikan antara kinerja kedua gender tersebut. Artinya, baik perempuan dan lelaki mendapatkan nilai yang sama, tidak terdapat yang lebih baik atau lebih buruk dalam multitasking.

Perbedaan hanyalah dalam urusan kebersihan. Wanita didapati lebih unggul dalam hal kesucian saat melalukan multitasking. Dalam mengerjakan sejumlah jenis kegiatan pun, lelaki didapati lebih tepat guna ketimbang wanita.

Melalui studi ini, peneliti menyarankan untuk masyarakat, perusahaan, keluarga, dan pemerintah untuk mengolah pola pikir yang memandang bahwa perempuan lebih tepat diberi tidak sedikit pekerjaan sekaligus.

Ia pun menambahkan bahwa asumsi perempuan lebih multitasking di lokasi kerja mesti diolah dalam suatu perusahaan.

Temuan ini hadir seiring dengan maraknya kesetaraan gender yang sedang terjadi