Tuesday, 11 June 2019

Kisah Haru, seorang Prajurit Belanda yang meninggalkan dan berjuang untuk membantu kemerdekaan Indonesia

Kisah Haru, seorang Prajurit Belanda yang meninggalkan dan berjuang untuk membantu kemerdekaan Indonesia

Kisah Haru, seorang Prajurit Belanda yang meninggalkan dan berjuang untuk membantu kemerdekaan Indonesia


AGEN BANDARQ Tak seluruh serdadu kolonial Belanda setuju dengan negaranya sekitar menjajah Indonesia di masa lalu. Tercatat, ada sejumlah dari mereka yang malah menaruh simpati pada perjuangan kaum republik dan memilih desersi dari kesatuannya. Seperti yang dilaksanakan oleh sosok mempunyai nama Piet van Straveren, prajurit Belanda yang pada akhirnya menolong perjuangan kebebasan RI.

Dilansir dari tirto.id, ia sejatinya begitu benci pada perbuatan Belanda mengantarkan pemuda-pemuda laksana dirinya guna berperang dengan Hindia Belanda yang diduduki oleh negaranya. Berawal dari sikap ketidaksukaannya inilah, dirinya menjelma sebagai sosok yang membangkang negerinya sendiri demi merdekanya suatu negara baru yang kelak mempunyai nama Indonesia.

Datang ke Indonesia dengan niatan bukan sebagai tentara musuh


Sedari awal, Piet tidak setuju dengan ambisi Kerajaan Belanda guna tetap menjaga keberadaannya menempati Indonesia. Hal berikut yang lantas membuat dirinya menyembunyikan diri masa-masa ada panggilan mesti militer. Dilansir dari tirto.id, Piet inginkan ikut ke Hindia Belanda yang telah dinamai Indonesia tersebut setelah dirinya dimaafkan dan tidak banyak omong kosong bahwa dirinya dikirim guna misi perdamaian. Ia bahkan menulisi helmnya dengan kata “Kami datang sebagai teman, tidak sebagai musuh”. Setibanya di Indonesia, Piet besok bergabung dengan orang-orang sayap kiri dalam organisasi organisasi BKPRI (Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia), di Madiun, Jawa Timur.

Membelot dan memilih bergabung dengan perjuangan kebebasan RI


Sesampainya di sana, Piet baru menyadari propaganda pemerintah Belanda yang ternyata ialah omong kosong belaka. Sama laksana layaknya tentara pendudukan, ia mesti menggarap tugasnya sebagai prajurit yang mempunyai kepentingan atas tanah jajahan, dengan teknik menembaki semua pejuang republik. Hal berikut yang membuatnya lantas memilih guna desersi alias membelot dari kesatuannya. Tercatat, Piet beralih ke pihak Republik pada pertengahan 1947.

Berganti nama dan sempat tercebur peristiwa berdarah di Madiun 1948


Piet yang merasa dirinya sudah berpihak pada kaum republik, lantas mengubah identitasnya supaya lebih memantapkan pilihannya tersebut. Laman historia.id menulis, ia kemudian memakai nama Indonesia dengan citarasa Jawa, yaitu Pitojo Koesoemo Widjojo. Di Indonesia, Piet alias Pitjo tergabung dengan orang-orang kiri dalam organisasi BKPRI (Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia). Sayang, peristiwa penentangan kaum kiri di Madiun pada 18 September 1948 turut menyeret dirinya. Ia juga harus rela naik turun gunung dan ikut bergerilya. Baik menghindari kejaran tentara pemerintah yang anti-kiri dan sergapan tentara Belanda.

Kembali dipenjara oleh Belanda hingga dilepaskan kemudian


Sayang, Pitojo lantas tertangkap oleh Polisi Militer Belanda sesudah adanya gencatan senjata pada 24 September 1949. Hingga pada Januri 1950, ia dikirim kembali ke Belanda. Bukan sebagai serdadu, tetapi pengkhianat bangsa yang layak untuk diadili. Pitojo alias Piet juga dengan hukuman kurung sekitar 8 tahun. Kabar penahanan dirinya, mendapat protes keras dari kalangan masyarakat Indonesia, Belanda dan dunia internasional. Karena tekanan yang bertubi-tubi, pemerintah Belanda akhirnya melepaskan Pitojo dari penjara pada 3 Agustus 1954. Di mana pada hari tersebut ia disambut semua pendukungnya, baik dari Indonesia dan Belanda, dengan perasaan gembira.

Kisah perjuangan Indonesia dalam upayanya meraih kebebasan dari Belanda memang sarat dengan warna. Tak hanya dilaksanakan oleh kaum pejuang Republik, tapi pun dari mereka yang notabene serdadu Belanda yang kesudahannya lebih memilih membelot dari kesatuannya. Meski tak tidak sedikit dikenal, sosok Piet van Straveren yang sudah berganti nama menjadi Pitojo Koesoemo Widjojo, sedikit tidak sedikit telah mengecat perjalanan sejarah kebebasan tanah air.