Saturday, 31 August 2019

Agar Mata Bebas dari 'Lensa' Minus

Agar Mata Bebas dari 'Lensa' Minus

Agar Mata Bebas dari 'Lensa' Minus



Obat untuk meminimalisir gangguan mata minus, plus, atau silinder, memang belum ditemukan. Namun teknologi yang bisa mengoreksi gangguan penglihatan terus dikembangkan.

Inilah yang ditawarkan CoZi Lasik, yakni generasi terbaru dari lasik dengan proses yang lebih cepat dan risiko yang semakin rendah.

"Teknologi ini menciptakan proses koreksi kornea menjadi jauh lebih cepat"


Setiyo menjelaskan, bila teknologi lasik terdahulu dapat memakan masa-masa 40 detik dalam mengoreksi kornea, CoZi Lasik melulu membutuhkan masa-masa 20 detik.

"Semakin cepat maka hasilnya kian presisi. Jika pemakaian laser terlampau lama, nanti dapat overcorrection sebab kornea kering,"

Overcorrection atau koreksi berlebihan memang menjadi di antara efek samping dari lasik. Semisal, kita mempunyai mata dengan minus 5, over correction dapat menciptakan minus pulang menjadi plus. Dengan CoZi Lasik, risiko ini jauh berkurang.

Secara sederhana, 'cara kerja' lasik merupakan dengan mengubah format kelengkungan kornea demi mengoreksi gangguan refraksi laksana mata minus, plus dan silinder. Selama tindakan, unsur kornea bakal dibuka. Lalu, koreksi kelengkungan kornea juga dilakukan.

Walau begitu, hasil lasik memang tidak 100 persen menghilangkan gangguan refraksi. Setiyo menyerahkan contoh, pasien dengan mata minus 5 yang menjalani formalitas lasik, tidak serta merta minusnya hilang menjadi 0.

Menurutnya, terdapat toleransi minus 0,25 sampai maksimal minus 1. Namun ia menjamin, pasien yang mengerjakan prosedur CoZi Lasik tidak lagi membutuhkan kacamata atau lensa kontak untuk dapat melihat dengan jelas.

Di Indonesia, teknologi lasik telah ada semenjak tahun 1995. Teknologi yang memadukan mikrokeratom dan software laser ini membawa angin segar guna mereka yang tak mau memakai kacamata atau lensa kontak.