Tuesday, 10 September 2019

Studi: Diet Vegetarian Tingkatkan Risiko Stroke

Studi: Diet Vegetarian Tingkatkan Risiko Stroke

Studi: Diet Vegetarian Tingkatkan Risiko Stroke



Banyak orang beramai-ramai menjalankan pola hidup sehat dengan menghindari konsumsi daging. Namun, studi teranyar malah menemukan risiko kesehatan berhubungan diet vegetarian. Risiko stroke tergolong di dalamnya.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal medis BMJ ini menyebut, mereka yang tidak mengonsumsi daging lebih berisiko terpapar penyakit stroke. Namun, pada ketika yang bersamaan, mereka pun diketahui mempunyai risiko yang lebih rendah berhubungan penyakit jantung koroner.

Risiko jantung koroner [pada mereka yang tidak mengonsumsi daging] lebih rendah, namun risiko stroke lebih tinggi.

Studi ini adalahyang kesatu kali mengaitkan risiko stroke dengan diet vegetarian. Penelitian mengejar bahwa diet vegetarian mempunyai risiko stroke 20 persen lebih tinggi dan risiko penyakit jantung koroner 22 persen lebih rendah daripada semua pemakan daging.

Stroke hemoragik diketahui berhubungan dengan diet jenis ini. Stroke ini merupakan situasi pecahnya di antara arteri yang merangsang pendarahan di dekat otak. Hal tersebut membuat aliran darah pada sebagian benak terputus.

Peneliti mengawasi lebih dari 48 ribu partisipan di Inggris dengan rata-rata umur 45 tahun sekitar 18 tahun periode studi. Partisipan dipecah ke dalam tiga kelompok: pemakan daging, pescetarian, dan vegetarian. Hasilnya, ditemukan sejumlah 2.820 permasalahan penyakit jantung koroner dan 1.072 permasalahan stroke pada partisipan.

Namun, studi tak menemukan dalil yang melatarbelakangi tingginya risiko stroke pada mereka yang tidak mengonsumsi daging. Tong menduga, kaitan tersebut diakibatkan oleh kadar kolesterol yang paling rendah pada diet satu ini.

"Ada sejumlah bukti yang mengindikasikan bahwa kadar kolesterol rendah dikaitkan dengan risiko stroke hemoragik," ujar Tong.

Kendati menjadi pionir, tetapi penelitian ini diragukan oleh sebanyak ahli. Ahli gizi Mark Lawrence dan Sarah McNaughton, dalam tajuk rencana pada jurnal yang sama, mencatat bahwa hasil riset tak berlaku untuk seluruh kaum vegetarian secara global.

"Peserta seluruh berasal dari Inggris, di mana pola diet dan perilaku gaya hidup ingin saling bertolak belakang di masing-masing negara," tulis keduanya.

Ahli diet dari British Heart Foundation, Tracy Parker menuliskan bahwa riset baru mempunyai sifat observasional. "Penelitian tak memberikan lumayan bukti," katanya.

Dibutuhkan riset lebih lanjut untuk menyokong hasil temuan itu dan menggali penyebab kebersangkutanan antara risiko stroke yang lebih tinggi pada mereka yang menjalani diet vegetarian.