Saturday, 24 August 2019

Bakteri dalam Serangga Diklaim Ampuh Turunkan Kasus DBD

Bakteri dalam Serangga Diklaim Ampuh Turunkan Kasus DBD

Bakteri dalam Serangga Diklaim Ampuh Turunkan Kasus DBD



Demam berdarah dengue (DBD) terus meresahkan masyarakat. Bakteri Wolbachia pada serangga dinamakan ampuh melumpuhkan virus dengue sekaligus mengurangi angka penularan.

Peneliti World Mosquito Program (WWP), Adi Utarini mengatakan, Wolbachia ialah bakteri yang ada dalam tubuh serangga.

"Sebanyak 60 persen bakteri terdapat di jenis serangga laksana ngengat, lalat, capung, dan kupu-kupu," ujar Adi dalam Seminar Hari Pengendalian Nyamuk 2019 dalam rilis Kementerian Kesehatan RI.

Wolbachia berperan guna melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Dengan demikian, virus dengue tak bakal menginfeksi tubuh manusia.

Kemampuan melumpuhkan virus tersebut terjadi dampak perkawinan antar nyamuk Aedes aegypti dengan Wolbachia dengan nyamuk sejenis tanpa bakteri yang sama.

"Aedes aegypti jantan ber-Wolbachia yang kawin dengan Aedes aegypti betina bisa memblok virus dengue pada nyamuk betina," jelas Adi mencontohkan. Sementara perkawinan kebalikannya akan menciptakan seluruh telur nyamuk berisi Wolbachia.

Efektivitas Wolbachia telah dianalisis sejak 2011 lalu. Penelitian dilaksanakan melalui fase persiapan dan pelepasan Aedes aegypti dengan Wolbachia dalam skala terbatas pada tahun 2011-2015.

Selanjutnya, fase pelepasan nyamuk berskala luas dilaksanakan untuk mengukur dampaknya. Fase itu salah satunya dilaksanakan di Kota Yogyakarta, DIY.

Hasilnya, angka permasalahan DBD merasakan penurunan sampai 75 persen. Adi mengatakan, penurunan angka permasalahan dengan bakteri Wolbachia ini adalahinovasi pengendalian vektor yang diperlukan saat ini.

DBD ialah penyakit menular yang ditularkan melewati gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini lazimnya menyerang umur anak tidak cukup dari 15 tahun dan pun dapat terjadi pada orang dewasa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjadikan DBD sebagai masalah kesehatan global dengan perkiraan kasus selama 390 juta masing-masing tahunnya.

Di Indonesia, semenjak kesatu kali ditemukan pada 1968 silam, jumlah permasalahan DBD terus meningkat. Beberapa tahun ke belakang kondisi DBD di Indonesia bahkan ingin fluktuatif. WHO menanam Indonesia sebagai negara kedua dengan permasalahan DBD terbesar salah satu 30 negara endemis.